Menangani Karyawan yang Marah

Computer generated image - Unhappy Colleagues .
Computer generated image – Unhappy Colleagues .

Pada dasarnya semua tips mengenai cara menangani karyawan maupun anak buah yang marah atau emosional sifatnya adalah teori. Berhadapan dengan karyawan yang sedang emosional seringkali membuat diri sendiri terbawa suasana hingga akhirnya ikut menjadi emosi. Sehingga yang terjadi akhirnya adalah adu kekuatan posisi.

Dari sekian banyak cerita dan pengalaman orang yang sukses menghadapi karyawan yang Emosional, maka tindakan yang paling sering diambil adalah:

  1. Pastikan diri sendiri untuk tidak terbawa emosi. Tetap stabil dan tenang.
  2. Biarkan karyawan tersebut menyelesaikan hal yang ingin disampaikan. Pastikan kembali anda menangkap apa yang mereka sedang sampaikan.
  3. Ketika sudah mendapatkan kesempatan untuk berbicara, maka tawarkan hal berikut:
    1. “Apakah anda sudah tenang? Saya akan berbicara / diskusi dengan anda jika sudah tidak ada nada tinggi. Selain itu tidak akan ada solusi yang tepat saat ini.”
    2. Bicara secara one-on-one, tidak berkelompok (jika yang marah lebih dari satu). Kondisi berkelompok akan menyulut emosi.
    3. Tawarkan tempat yang lebih sesuai untuk berbicara berdua.
  4. Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi, tapi janjikan bahwa anda berusaha mencarikan solusi yang tepat dan akan memberikan update terbaru dalam 1×24 jam (atau waktu lain yang disepakati berdua).
  5. Karyawan yang marah prinsipnya membutuhkan komitmen penyelesaian masalah, sehingga hanya ada 2 jenis output dari pertemuan pertama:
    1. Keinginan karyawan yang marah bisa langsung dipenuhi.
    2. Memberikan timeline untuk tahapan mencapai solusi yang diinginkan.

Mengapa Karyawan Marah

Dari sudut pandang positif, karyawan yang marah selalu diawali dengan kejadian yang tidak terselesaikan atau terkait dengan hal yang sangat sensitif.

Jika ada kejadian yang tidak “nyaman” terjadi secara berulang dan tidak ada solusi, sementara atasan atau perusahaan sudah pernah diinfo dan tidak ada respon, maka karyawan menjadi marah. Ada hak karyawan yang tidak dipenuhi dan dibiarkan berlarut-larut.

Penyebab lain adalah adanya kebijakan yang menyangkut hal sensitif yang diputuskan secara tiba-tiba tanpa adanya pemberitahuan atau diskusi terlebih dahulu. Misalnya: Kebijakan tidak ada kenaikan gaji. Jika kebijakan tersebut diputuskan tanpa ada pembicaraan atau diskusi dengan karyawan, maka wajar jika Karyawan merasa diperlakukan semena-mena. Jika ada kebijakan “tidak populer” yang ingin diterapkan, maka jauh hari sebelum diputuskan perlu adanya sosialisasi, penjelasan terhadap karyawan mengenai kondisi terkini, mengajak karyawan untuk mencari solusi yang lebih baik.

Sementara dari sudut pandang negatif, bisa saja karyawan yang marah tersebut di-provokasi dengan informasi yang kurang tepat. Sehingga tujuannya menciptakan kondisi yang kacau.