Tidak jarang kita jumpai kondisi di kantor dimana perbedaan pendapat terjadi, bahkan mengarah pada perdebatan, emosi, dan mungkin saja perkelahian. Konflik seperti ini bisa terjadi pada siapa pun tanpa mengenal usia, gender, bahkan level jabatan. Tidak jarang kita mungkin mengalami atau melihat seorang atasan yang memarahi anak buah baik secara individu maupun di depan orang lain. Atau mungkin pada saat meeting terjadi perdebatan, saling tuding penyebab kesalahan, hingga ada yang menangis, dan lebih parah jika muncul aksi gebrak meja, melempar barang, hingga perkelahian.

Banyak pertanyaan yang harus di jawab jika konflik tersebut terjadi di sekitar kita, atau bahkan dialami kita sendiri:

  1. Wajarkah konflik terjadi? Perbedaan pendapat wajar untuk terjadi, tapi jika mengarah pada tindakan emosional yang berlebihan pastinya sudah tidak wajar.
  2. Mengapa tindakan emosional terjadi? Pasti karena tidak ada yang mengalah, ngotot mempertahankan pendapat, atau memang ada keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Yang jelas pada situasi ini yang terlibat konflik tidak mampu membuka pikiran bahkan menghargai pendapat orang lain.
  3. Perlukah tindakan emosional terjadi (marah berlebihan, menangis, perkelahian)? Tidak perlu lah, kembali pada pertanyaan nomor dua, kenapa harus terjadi.
  4. Jika berada dalam situasi yang emosional, apa yang harus dilakukan? Yang terbaik adalah menghentikan percakapan, bersama-sama menenangkan diri dan melanjutkan diskusi pada saat situasi hati sudah tenang. Jika sebagai penonton, kita wajib menjadi penengah untuk menghentikan pertikaian dan menjauhkan pihak-pihak yang sedang konflik dan mencoba memberikan pengertian.
  5. Kesabaran pasti ada batasnya, dan kita juga punya harga diri, apa menerima begitu saja diinjak-injak oleh lawan bicara? Pertama, kita bukan sedang dalam keadaan berperang, apalagi berkompetisi. Apa yang anda kerjakan di kantor adalah untuk kepentingan perusahaan, bukan diri sendiri ataupun tim anda. Jika sudah jelas untuk kepentingan perusahaan, mengapa harus terpancing emosi? Ini bukan perusahaan miliki anda, kita hanya bekerja dan digaji disitu. Jika ada orang lain marah2, mereka juga bukan yang menggaji anda. Bagi saya mudah saja, tinggalkan dan tidak usah dipedulikan. Kita patut kasihan pada orang yang rela mengeluarkan energi berlebih untuk marah, ataupun menangis di kantor. Apa sih yang sebenarnya di bela? Jangan sok-sok-an deh. Semua dilihat sesuai porsi-nya. Belum tentu pemilik perusahaan menghargai tindakan emosi anda.

Cuek, santai, yang penting profesional. Jengkel, silakan tapi tidak perlu emosi. Sedih, tapi tidak perlu menangis. Marah perlu sebagai sikap tegas, tapi tidak perlu berteriak ataupun bertindak kasar.

Jika anda peduli, laporkan saja pada HR manager di kantor anda atau pada pimpinan tertinggi. Tapi jika tidak mau repot, cuek saja, tapi jangan jadi kompor yang bersembunyi. Jika tidak suka, sampaikan secara langsung secara profesional.

Sebagai atasan dalam menghadapi anak buah yang emosional? Kita perlu tegas, namun kendalikan tidak terpancing emosi. Seperti orang tua kepada anak, tegas tanpa perlu kasar. Apalagi jika anak buah lebih senior, dia atau mereka akan sadar dengan sendirinya dengan sikap yang anda tunjukkan. Jika anak buah ini membuat provokasi pada tim? Jangan sungkan untuk memberikan ancaman balik untuk mengeluarkan dia. Sebagai atasan anda berhak memecat anak buah yang bermasalah kan? Lakukan secara profesional.

Sebagai anak buah menghadapi atasan yang kasar? Beranikan diri anda untuk mengungkapkan ketidaksukaan anda atas sikap kasar tersebut. Jika tidak ada jalan keluar, jangan takut untuk keluar / pindah perusahaan. Wajar dan manusiawi. Namun jika belum ada kesempatan, bersabar saja … dan kuatkan hati.

Menghadapi rekan kerja yang emosional? Anda cukup sabar atau tidak? jika sudah malas, selalu diskusi saja dengan atasannya atau anak buahnya mungkin. Tunjukkan sikap bahwa anda malas berdebat dan ingin mencari solusi atas masalah kantor, bukan masalah pribadi.

Jika anda merasa sudah tidak ada jalan keluar untuk mengatasi konflik? Jika tidak suka, ya cari pekerjaan di perusahaan lain. Jika belum ada pilihan lain, memang anda harus bersabar dan tetap bersikap profesional. Buang jauh sikap emosional yang dapat mempengaruhi kinerja / performa anda dalam bekerja.